jump to navigation

Hati-hati Pakai Modal Pihak Lain December 27, 2008

Posted by aerobtm in Peluang Usaha.
trackback

Ade Mandiri Motor Nyaman Gabung AHASS

Bermula suka kebut-kebutan Ronald VS akhirnya membuka usaha bengkel motor. Usahanya ini tidak langsung dengan membuka bengkel sendiri. Awalnya ia menjadi karyawan di bengkel orang lain. Pria yang tak menyelesaikan pendidikan di STM (Sekolah Tinggi Teknik) – kini disebut SMK ini – mencari ilmu bengkel tempatnya bekerja.
Hingga akhirnya dengan modal yang dimiliki sendiri ia membua bengkel di Sungai Harapan. Ia terlahir di Padang namun besar di Dumai. Di kota minyak inilah ia mengenal motor. Tahun 1982 ia masuk ke Batam. “Wah di sini masih hutan,” kisahnya tentang lokasi bengkelnya.

Tahun 1990 ia membuka bengkel dari bawah, tak ada modal pinjaman yang ia pakai, semua menggunakan modal sendiri. Sedikit demi sedikit ia menerima pelanggan. Dewi Fortuna menghampiri bisnis Ade, demikian ia kini akrab disapa. Honda kala itu giat membimbing bengkel yang ada di Batam untuk kemudian diajak bergabung dengan AHASS, sebuah jaringan bengkel resmi milik Honda.

Dua tahun Ade harus berjuang menunjukkan kinerja yang bagus. Bahasa kerennya saat ini adalah ia tengah menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test). Ade pun berhasil lolos. Sejak 1997 ia bergabung dengan AHASS dengan nomor 02285. Bengkelnya ia beri nama Ade Mandiri Motor.

Ade adalah namanya. Mandiri sebagai tanda ia tak menggunakan modal dari pihak kedua untuk menjalankan roda bisnisnya. Ia bukannya alergi dengan bank hanya takut terjerat hutang. Ade juga tak menggunakan dana investor karena kuatir sang investor terlalu jauh masuk dalam manajemen bisnis. “Kalau mau modal saja saya mau, tapi kalau masuk dalam pengelolaan bengkel saya keberatan,” kilahnya saat ditanya tentang modal investor.

Enak mana bikin bengkel sendiri atau bergabung dengan jaringan bengkel seperti AHASS? Ade dengan tegas menjawab, gabung dengan AHASS. Banyak fasilitas yang ia bisa peroleh dengan bergabung dengan jaringan bengkel.

“Memang ada hubungan timbal balik, kami menjualkan produk Honda sementara Honda memberikan pembinaan kepada kami,” tuturnya.

Suku cadang yang dijual di bengkelnya tentu saja harus resmi milik Honda, motor yang diservis pun juga harus merek Honda. “Dalam perjanjiannya memang se[erti itu,” ucapnya. Sebagai timbal balik Ade tak harus pusing dengan kemampuan tenaga kerja karena Honda senantiasa melakukan pendidikan kepada mekanik bengkel.

Tidak itu saja, fasilitas bengkel pun diperhatikan olah bapak angkat, Honda. Semisal front desk. “Kalau di bengkel biasa mana ada front desk seperti itu,” ujar ayah tiga orang anak (seorang meninggal) ini kepada batampos.co.id.

Dengan bergabung dengan jaringan bengkel Ade juga mendapatkan aturan yang tegas tentang standar mutu sebuah bengkel, termasuk pembuangan oli bekas. “Ada tank yang ditanam di dalam tanah sehingga oli tak lari ke mana-mana,” imbuhnya.

Untuk onderdil ia juga tak harus mengeluarkan uang kas saat membutuhkan, ia cukup mengambil dari distributor lalu membayarnya saat jatuh tempo. Sebuah cara yang bisa membantunya memutar keuangan.

Menurutnya, untuk membuat bengkel seperti yang ia miliki, setidaknya dibutuhkan dana Rp200 juta. Pengeluaran terbanyak adalah untuk sewa ruko/gedung. Tentu saja jika harga sewa rendah atau bahkan memiliki lahan sendiri bisa lebih murah.

Saat normal, dalam sebulan ia bisa menerima 700 unit motor untuk diperbaiki atau sekadar ganti oli.

O ya, satu lagi keuntungan ikut dalam jaringan bengkel adalah secara otomatis bengkel dibantu dalam pemasaran. Saat induk melakukan promosi bengkelpun secara otomatis terikut. Misalnya saja untuk pembelian motor baru, gratis ganti oli bahkan gratsi servis, tentu saja ini sangat membantu bengkel untuk bernafas. “Bisa dihitung kesempatan kita mendapatkan pasar,” aku Ade.

Seperti juga pebisnis lain ia juga memiliki kebanggaan tersendiri dengan berwirausaha. “Kepuasan batin adalah karyawan saya bisa buka bengkel sendiri,” urainya.

Sesungguhnya anak buah hengkang adalah bagian menyakitkan dalam menjalani usaha ini. “Begitu banyak energi yang kita keluarkan, eh gak tahunya keluar,” ujarnya. Namun Ade sadar itu adalah proses, seperti ia dulu juga menjadi karyawan lalu menjadi pengusaha. Sekalipun sakit, ia bangga. “Mereka masih sering kemari untuk diskusi,” lanjutnya. “Kalau mereka mendapati masalah soal mesin yang dihadapi mereka juga datang ke saya.”

Ade belum memiliki bisnis lain. “Kalau mimpi sih ada, cuman belum saja,” katanya.

Mau tahu pesan Ade dalam berbisnis? “Jangan lupa bayar pajak,” ucap Ade serius.

Menurut Ade dengan tertib bayar pajak negara senang pengusaha pun senang karena tidak perlu takut jika ada yang mencoba menggertak. Bagaimana pengusaha lain? (putut)
sumber: http://www.batampos.co.id

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: