jump to navigation

Rakusnya Ekonomi Kapitalis December 27, 2008

Posted by aerobtm in Krisis Ekonomi Global.
trackback

Jumat, 17 Oktober 2008 Tidak diragukan lagi bahwa krisis ekonomi yang terjadi sampai saat ini pasti akan terus terjadi. Mengapa? Fakta menunujukkan, krisis ekonomi yang terjadi adalah krisis berulang, yang sebelumnya sering terjadi. Anehnya, solusi yang ditawarkan dengan mempertahankan sistem ekonomi yang ada, yang sudah terbukti tidak memberikan harapan mensejahterakan manusia. Bahkan, sistem ekonomi yang diterapkan di dunia ini sudah terbukti melahirkan manusia-manusia rakus! Sistem ”bunga” atau ekonomi ribawi yang menjadi ”andalan” sistem ekonomi sekarang membuat eksploitasi itu menjadikan bisnis tak sekedar ”permainan” tapi ”pembantaian”. CEO Jawa Pos, Dahlan Iskan, menyatakan, betapa tak adilnya orang-orang yang di sektor keuangan mendapat keuntungan 40 persen. Sementara orang-orang di sektor riil hanya dapat untung 20 persen. Tentu saja ini sebuah eksploitasi, karena orang-orang di sektor riil bekerja jauh lebih keras. Memang, krisis ekonomi global yang dimulai dengan jatuhnya saham di pasar ”tidak riil”, merupakan bukti bahwa sistem ekonomi kapitalis sangat ditopang ekonomi finansial yang tidak nyata. Maka pantas saja, ketika terjadi goncangan pasar global (global market crash) akhir-akhir ini, menyebabkan sangat sedikit tempat yang aman dalam berinvestasi. Tercatat 50 dari 52 bursa saham global mengalami pertumbuhan negatif. Bahkan, 25 di antaranya kehilangan dua digit. Laporan S&Ps menunjukkan kerugian para investor di bursa dunia dalam satu bulan mencapai 5,2 triliun dolar AS. Suatu tingkat kerugian yang sangat fantastis, kurang lebih 53 kali penerimaan APBN-P 2008. Bursa Efek Indonesia (BEI) termasuk yang mengalami kejatuhan terparah. Dalam satu tahun IHSG kehilangan nilai 41,02 persen. Sumbangan keanjlokan indeks yang paling besar terjadi pada 6 dan 7 Oktober 2008. Dalam dua hari IHSG anjlok 22,17 persen, sehingga tinggal 1.451,66 poin jauh di bawah angka psikologis 2.000. Kapitalisme berkembang. Sistem ekonomi berevolusi menjadi perekonomian yang didominasi sektor moneter (ekonomi non-riil). Sedangkan sistem moneter dibangun atas tiga pilar, yaitu uang kertas, perbankan ribawi dan bunga. Ketiganya menciptakan transaksi derivatif di sektor finansial, yakni transaksi berbasis portofolio. Inilah fakta yang nyata dari buruknya sistem ekonomi yang mengandalkan pasar tidak riil itu. Ketika sebuah bangsa mencapai kejayaan, mereka cenderung cinta kemewahan. Faktanya, kecenderungan ini menjadikan mereka rakus dan tidak cerdas pasar. Tak ada strategi kapitalisme mengatasi kondisi ini. Mekanisme pasar tidak sanggup menghasilkan ”tangan gaib”. Optimisme, para pakar ekonomi kapitalis seperti Adam Smith dan John Naisbitt faktanya tak pernah terbukti! Bapak ekonomi kapitalis Adam Smith membangun ajaran kapitalisme dengan paradigma Laissez Faire. Menurut Adam Smith, setiap orang harus diberikan kebebasan melakukan apa yang diinginkannya tanpa campur tangan negara. Prinsip ini mendorong mekanisme dan transaksi ekonomi, termasuk hukum dan perundang-undangan tunduk pada prinsip kebebasan kepemilikan dengan nilai-nilai materialistis yang ”hampa” agama (sekularisme). Dengan ini, manusia terpancing meraup keuntungan sebesar-besarnya (profit oriented) tidak peduli bagaimana cara memperoleh dan apa dampaknya bagi orang lain dan lingkungan. Lahirlah manusia-manusia rakus! Kebijakan yang dilakukan pemerintah kita mengatasi krisis ekonomi ini, dengan meng-”utak-atik” angka-angka indikator makro ekonomi (baca: kapitalis), seperti angka pertumbuhan ekonomi, tingkat inflasi, nilai tukar rupiah, suku bunga SBI, harga minyak. Padahal, besar-kecilnya angka-angka tersebut, terbukti tidak menghasilkan tingkat kesejahteraan yang diharapkan. Bahkan, ke-”rakus”-an ekonomi para pelakunya semakin menjadi-jadi. Pemerintah ibarat supir, dan sistem ekonominya ibarat mobil dan pelaku ekonomi serta rakyat ibarat penumpang, masalahnya bukan pada supir dan penumpangnya. Masalahnya adalah, mobil yang bernama kapitalisme ini memang menghasilkan supir atau penumpang yang rakus dan rakyat yang tidak berdaya. Adalah wajar kalau sistem ekonomi ini layak tidak dipakai lagi! Untuk saat ini, tak ada konsep ekonomi lain yang siap menggantikan kapitalisme kecuali Islam. Sosialisme Amerika Latin sebanarnya hanyalah kapitalisme Keynesian dengan beberapa catatan. Itupun lebih didorong ada orang kuat seperti Hugo Chaves dan Castro bersaudara. Sebenarnya telah banyak para pakar ekonomi yang menyoroti dengan detail akan kesalahan dan kekeliruan kapitalisme dalam memimpin dunia. Kini sudah saatnya dimunculkan sistem ekonomi altenartif yang harus diterapkan negara, agar krisis ekonomi yang sering terjadi ini tidak akan selalu berulang dan berulang. Sistem itu tidak lain adalah Sistem Ekonomi Islam yang akan menghilangkan ekonomi finansial yang tidak riil itu. Siapkah kita? Wallohu a’alam bish-showaab. Sumber: http://www.batampos.co.id

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: