jump to navigation

AIT PHK Puluhan Karyawan January 8, 2009

Posted by aerobtm in Indonesia.
trackback


Written by anto
Selasa, 06 Januari 2009
Vice Presiden sampai Operator
Putus Kontrak Tenaga Ekspatriat

BATAM, TRIBUN – PT Astra Internastional Technology (AIT) yang kini berganti nama menjadi PT Unisem, melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap puluhan karyawan yang telah belasan tahun mengabdi di perusahaan itu. Diperkirakan PHK akan terus berlanjut hingga paling sedikit 400 orang.

Hal yang mengejutkan adalah, perusahaan yang beroperasi di kawasan industri Batamindo, Mukakuning itu tidak saja melakukan PHK terhadap karyawan di level operator, tetapi juga pekerja ekspatriat di level manajemen. Mulai dari vice president, manajer, supervisor, leader, group leader, dan supervisor group leader.

Informasi yang diperoleh Tribun, Senin (5/1), PHK sudah mulai dilakukan sejak Oktober 2008.

Sebuah sumber kuat mengungkapkan bahwa PHK dilakukan untuk merampingkan struktur organisasi perusahaan agar lebih tahan menghadapi terpaan krisis finansial global. Sebab, saat ini order yang diterima melorot sampai 50 persen.

DI, seorang karyawan PT Unisem menuturkan, saat ini ada 11 karyawan level menengah (leader sampai supervisor group leader) yang akan dirumahkan. Managemen telah memberikan surat pemberitahuan PHK kepada mereka. “Ada 11 karyawan level menengah berstatus permanen yang masuk dalam daftar karyawan yang di PHK perusahaan,” ungkap DI.

Karyawan yang masuk daftar PHK telah bekerja belasan tahun, bahkan beberapa sudah mengabdi selama 17 tahun, sejak perusahaan beroperasi pertama kali di Batamindo tahun 1992 silam, saat masih satu group dengan Astra.

Hal senada diungkapkan suami dari seorang karyawati Unisem yang telah bekerja 17 tahun. “Iya istri saya mau dirumahkan. Surat sudah diterima, tapi kami belum ada keputusan diterima atau tidak. Lihat dululah, kalau uang pesangonnya besar, di atas Rp 70 juta, mungkin bisa dipertimbangkan,”kata ayah tiga anak itu. Mereka berencana pindah ke Jakarta.

Ditambahkan DI, selain melakukan PHK terhadap karyawan permanen, Unisem juga tidak lagi memperpanjang kontrak puluhan karyawan yang hanya memiliki sisa masa kontrak beberapa bulan. Selama satu bulan terakhir, perusahaan memang telah mengalami penurunan order.

Itu terbukti sudah beberapa penghentian produksi sementara (shutdown) di hari-hari tertentu. Sebagai contoh, pada Rabu (31/12) lalu, karyawan hanya bisa bekerja setengah hari. Hari berikutnya, karyawan diliburkan dan selama dua hari setelah 1 Januari 2009, produksi shutdown.

DI yang sudah 13 tahun bekerja di Unisem juga mengaku ditawari pesangon sesuai peraturan pemerintah.

“Saya pernah ditanya manajemen, apakah mau berhenti dan dijanjikan akan diberi kompensasi besar. Tapi saya tolak karena jumlahnya tidak sebesar pesangon yang harus dibayar jika saya di-PHK,” ujarnya.

Manager Human Resource (HR) PT Unisem Arif Rahman Hakim yang ditemui di kantor Unisem, mengaku tidak memiliki wewenang memberikan keterangan apapun. “Perusahaan ini telah listing (masuk bursa) di Malaysia, jadi tidak bisa sembarangan berkomentar. Keterangan resmi hanya bisa diberikan oleh pihak perusahaan,”ujarnya.

Ketua PUK FSPMI Unisem, Wawan Ruswandi, yang ditemui terpisah, mengaku belum menerima informasi resmi apapun dari manajemen, maupun karyawan yang menjadi anggota FSPMI Unisem. “Kami belum dapat laporan resmi. Anggota juga belum ada yang melapor,”kata Wawan yang didampingi dua rekan seorganisasinya, M Arif selaku Bendahara dan Zasri Muliyadi, Wakil Sekretaris Bidang Organisasi dan Pendidikan.

Kendati mengaku belum dapat informasi resmi, tapi Wawan mengatakan pihaknya telah menyiapkan langkah-langkah advokasi untuk karyawan yang dirumahkan tapi tidak sesuai prosedur aturan yang ada.

Pindah ke Malaysia
Unisem yang kini dimiliki pengusaha asal Malaysia, sebelumnya bernama PT AIT. Ketika berdiri tahun 1992, perusahaan itu bernama PT AMT yang berada di bawah managemen PT Astra Indonesia. Pada tahun 2000 berganti pemilik sekaligus berganti nama menjadi PT AIT dan pada 2007 lalu, resmi berganti lagi menjadi PT Unisem.

Sejak awal berdiri, perusahaan yang memproduksi komponen elektronik itu berkantor pusat di Batamindo, Mukakuning. Namun, setelah kepemilikan di tangan pengusaha Malaysia, kantor pusat dipindahkan ke Malaysia. Sehingga PT Unisem yang ada di Batamindo hanya sebagai kantor cabang.

Alhasil, status baru itu telah menyebabkan pencopotan beberapa top management, di antaranya presiden direktur dan vice presiden beserta beberapa manajer ekspatriat. Sekarang pemimpin tertinggi PT Unisem di Batamindo hanyalah dua orang direktur.

Produksi yang dihasilkan PT Unisem adalah komponen elektronik pesanan dari berbagai perusahaan yang ada di Amerika, Eropa, dan Asia. Sehingga, sepi atau ramainya order sangat tergantung dari kondisi perusahaan pemesan.

Saat ini, Unisem memiliki sekitar 3.600 karyawan, 65 persen di antaranya berstatus permanen dengan masa kerja maksimal 17 tahun, dan 35 persen pekerja kontrak. Seorang sumber Tribun di Unisem menyebutkan, kemungkinan PHK akan dilakukan hingga jumlah karyawannya mencapai 3.200. Artinya angka PHK bisa mencapai 400 orang. Sebuah sumber lain curiga, perusahaan ini kemungkinan akan hengkang ke Malaysia.

Selain merumahkan karyawan, PT Unisem juga melakukan sejumlah efisiensi lain, di antaranya meniadakan lembur atau over time (OT), mengirit pemakaian listrik dan air, dan bentuk efesiensi lainnya.

Sudah lapor
Kepala Dinas Tenaga Kerja Batam Rudi Syakia Kirti membenarkan, adanya PHK di PT Unisem. Perusahaan itu sudah berkonsultasi dengan Disnaker dan memberikan laporan terkait rencana PHK.

Ditambahkan Rudi, selama Desember lalu, memang banyak ekspatriat dari lima atau enam perusahaan yang ada di Batam diputus kontraknya oleh manajemen tempat mereka bekerja. Padahal kontrak mereka belum habis.

Ada 18 ekspatriat minta penghentian Izin Kerja Tenaga Kerja Asing (IKTA) dan mengambil sisa uang jaminan.
“Terakhir saya lihat data, ada empat orang ekspatriat dari PT Berlian Mukakuning yang meminta pencabutan IKTA. Kalau masa kontrak mereka belum habis, uang sisa jaminan yang bisa diambil lagi,”terang Rudi tanpa ingat rincian perusahaan yang mempekerjakan 18 ekspatriat tersebut.(nix)

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: