jump to navigation

Kunci Bisnis Bengkel Sepeda Motor March 1, 2009

Posted by aerobtm in Peluang Usaha.
trackback

Aceng: Kuncinya di Servis
Rubrik Khusus 09-02-2009
*mas khairani
TAK hanya Sri dan Salim yang mencari kepuasan atas hasil kerja mekanik. Baim (33), penduduk Sempali Deliserdang, pun berkata demikian. Ke bengkel mana pun dia membawa sepeda motor, yang dikejar tetap hasil servis. Soal harga jasa, mahal-mahal sedikit, itu perkara biasa.
Rasa nyaman berkendara yang diinginkan pelanggan setelah servis dari bengkel, sepertinya menjadi andalan para pelaku usaha di bidang perbengkelan. Keinginan pelanggan ini juga yang ternyata bisa menghidupkan usaha mikro dan kecil di luar bengkel-bengkel resmi. Selain itu, jumlah kendaaraan roda dua semakin lama semakin bejubel. Ini membawa rezeki tersendiri bagi yang punya keahlian mengotak-atik mesin sepeda motor.
Khairuddin, pemilik bengkel sepeda motor yang beralamat di Jalan Bhayangkara Medan, mengakui hal itu. Memberikan hasil terbaik membuat bengkelnya tetap didatangi pelanggan.
Agaknya, sebagai seorang pemilik sekaligus merangkap menjadi mekanik, dia sadar hasil servis adalah kunci bertahannya usaha perbengkelan. Ini bisnis jasa yang hasilnya tidak bisa dilihat secara kasat mata namun hanya dapat dirasakan usai jasa diberikan.
Pria berusia 39 tahun yang dikenal dengan sebutan Aceng ini, sudah 10 tahun menggeluti usaha bengkel untuk kendaraan roda dua. Pelanggannya terbilang cukup banyak. Dalam sehari pada situasi normal, sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB atau pukul 18.00 WIB, sekitar 10 unit sepeda motor bisa ditanganinya untuk sekadar servis-servis ringan. Sedangkan servis berat semisal sampai harus bongkar mesin, yang bisa dikerjakan paling banyak sekitar 2 unit.
Setiap jasa servis ringan yang diberikan, rata-rata memakan waktu pengerjakan paling cepat 45 menit. Dari hasil pengerjaan satu unit, dia memperoleh imbal hasil senilai Rp15.000. Untuk unit yang rusak berat, menurutnya, tak jarang harus dikerjakan sampai satu hari. “Lihat-lihat tingkat kerusakan,” ujarnya.
Tetapi, bagi ayah dari tiga anak yang berdomisili di bilangan Jalan Pancing Medan ini, secara hitung-hitungan ekonomi, lebih baik mengerjakan servis ringan ketimbang menerima “pasien” rusak berat. Sebab, motor yang tingkat kerusakannya terlalu parah, justru menyedot waktu yang lebih lama dengan tingkat kerumitan pengerjaan yang super teliti. Sementara, hasilnya sedikit lebih banyak yang berasal dari servis ringan dengan waktu kerja lebih singkat.
Pengakuan hasil servis yang didamba pelanggan juga datang dari pekerja bengkel di bilangan AR Hakim bernama Bembeng. Bila hasil servis tidak memuaskan, bisa-bisa pelanggan tidak mau datang lagi dan pasti mencari usaha bengkel lain.
Untuk soal hasil, setahunya, tergantung kecocokan. Seperti perkataan Salim, sehebat apa pun besar dan tenarnya bengkel, yang dicari tetap rasa pas dan cocok di kala menjalankan sepeda motor. Dalam hal ini, pelanggan adalah penilai hasil. Dan status hasil kerja sama sekali tidak bisa dipaksakan meski begitu banyak orang memuji-muji kehebatan sebuah bengkel. “Semua terpulang pada penilaian pelanggan,” tutur Bembeng yang sudah lebih dari 13 tahun bergelut di dunia oli dan obeng.
Sempat dia bercerita, beberapa tahun belakangan, bengkel-bengkel baru memang banyak yang tumbuh. Namun, tak sedikit yang mengeluh sebab pelanggan yang datang jumlahnya susah dirata-ratakan.
Pengalamannya sendiri selama bekerja, selain tuntutan hasil servis, pelanggan juga menginginkan harga jasa yang relatif lebih murah. “Orang sekarang banyak juga yang cari murah,” ungkapnya. Padahal, untuk memasang tarif jasa, mereka sendiri menyesuaikan diri dengan tarif servis yang dipasang bengkel-bengkel lain. Boleh dikata, Rp15.000 per servis ringan merupakan harga yang standar. Harga itu toh juga dipasang Aceng untuk sekali servis ringan di bengkelnya.
Bagi Bembeng secara pribadi, andai dia yang jadi pelanggan, prinsipnya biarlah mahal yang penting hasil servisnya bagus. “Tapi, mungkin karena situasi ekonomi sekarang yang membuat orang mencari harga murah,” katanya.
Lagi-Lagi Servis
Agaknya, servis memang menjadi pegangan wajib bagi para pemberi jasa perbengkelan. Rifai atau mekanik yang namanya lebih tenar sebagai Iwan tak menyangkal servis sebagai kunci bisnis. Bila sebuah bengkel tak mampu memberikan kepuasan atas hasil servis, cepat atau lambat usaha bengkel akan ditinggalkan pelanggan. Pelanggan akan mencari layanan lain yang kira-kira lebih pas di hati. “Kalau soal harga, itu kan bisa nego dan kompetitif,” paparnya.
Iwan mengaku belajar dari usaha bengkel Kita Kita di Jalan Setiabudi Medan (sekarang di Jalan Ringroad). Dia sempat setahun bekerja di bengkel itu. Yang sempat tertangkap dari manajemen bengkel, pelanggan menjadi fanatik lalu menyebarkan informasi kepada pemilik kendaraan lain bahwa hasil servis di bengkel itu termasuk bagus.
http://www.medanbisnisonline.com/

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: