jump to navigation

Bisnis Tokek March 13, 2009

Posted by aerobtm in Uncategorized.
trackback

http://www.forum.lareosing.org/archive/index.php/t-7537.html

Geliat Bisnis Tokek di Desa Aliyan, Rogojampi
Hasilnya Bisa untuk Beli Rumah dan Motor

Bagi sebagian orang, tokek mungkin termasuk binatang yang menakutkan sekaligus menjijikkan. Tetapi di tangan kreatif dua warga Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi ini, reptil tersebut bisa jadi ladang bisnis yang menggairahkan.
DESA Aliyan tidak selalu identik dengan tradisi Kebo-keboan. Masyarakat desa tersebut juga dikenal sebagai gudangnya pengepul tokek.

Para pengepul tokek itu adalah Salehan, 55, warga Dusun Cempaka Sari, Desa Aliyan. Satu lagi adalah Karyono, 49, warga Dusun Krajan, Desa Aliyan. Kedua pria tersebut sudah menggantungkan hidupnya dari bisnis hewan melata itu.

Salehan, sudah bergelut dengan bisnis tokek sejak tahun 1975. Dia mengakui, tokek merupakan sumber hidupnya sejak masih bujangan. Hingga kini, ketika dia sudah memiliki dua orang anak dan satu orang cucu, Salehan masih setia untuk menjadi pengepul tokek. ”Tidak terasa, sudah 33 tahun saya hidup dengan berbisnis tokek,” katanya.

Di dalam rumahnya pun, kandang tokek ditempatkan sangat istimewa. Meski terbuat dari kayu, dan sebagian terbuat dari gabus, kandang tokek itu selalu dijaga kebersihannya. Supaya tidak lari, Salehan sesekali juga menyimpan tokeknya di dalam karung.

Salehan mengatakan, tokek memiliki banyak manfaat. Salah satunya, tokek dipercaya berkhasiat untuk obat penyakit gatal. Sewaktu bujang, Salehan sering berburu tokek dari kebun satu ke kebun yang lain. Dia juga berburu tokek dari sawah satu ke sawah yang lain, untuk mengobati penyakit gatal keluarganya.

Seiring berjalannya waktu, populasi tokek semakin banyak. Apalagi daerah rumahnya masih banyak areal persawahan.

Dalam satu hari, Salehan bisa mendapatkan 150 ekor tokek. Tetapi kalau musim hujan, tokeknya jarang keluar. Jika musim hujan, dia hanya mendapatkan sekitar 50 hingga 90 ekor tokek.

Saat ini, pria bertubuh jangkung itu sudah memiliki 50 orang pekerja yang khusus membantunya berburu tokek. Kalau musim panas, dalam sehari dia bisa mengirim 2.000 hingga 3.000 ekor tokek. Binatang tersebut biasanya dikirim ke daerah Lumajang. ”Harga per ekornya Rp 1.800. Kata juragan saya, semua tokek itu akan diekspor ke Thailand, Jepang, dan negara lainnya,” jelas suami Nur Ifah itu.

Jika sehari mengirim 2.000 ekor tokek, dia bisa mendapat pendapatan kotor sekitar Rp 3.6 juta. Tetapi, semua itu tergantung musim. Kalau lagi musim panas, tokek yang keluar banyak sekali. Sehingga, mereka bisa menjual lebih banyak tokek.

Dari hasilnya menjadi pengepul tokek, Salehan bisa membeli rumah untuk bernaung seluruh anggota keluarganya. Tidak hanya itu, dia juga bisa membeli sepeda motor. ”Padahal sebelumnya, saya hidup mengontrak rumah. Sudah terbiasa pindah dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan yang lainnya,” kenangnya.

Sementara itu, suasana yang sama juga terlihat di rumah Kariyono. Dia merupakan pengepul tokek di RT 2 – RW 4, Dusun Krajan, Desa Aliyan. Lima orang pekerja tampak sibuk di depan puluhan karung berwarna putih. Menggunakan sarung tangan putih, mereka dengan sabar dan telaten menghitung tokek hasil buruannya. Terkadang, mereka juga berlarian mengejar tokek lepas.

Kariyono sendiri terlihat bercengkrama dengan pekerjanya di depan kandang tokek berukuran besar. Di situ juga terlihat dua buah motor yang dilangkapi tobos. Motor itu siap mengirim tokek yang dikumpulkan Karyono dan anak buahnya.

Dia mengaku sudah sepuluh tahun menggeluti bisnis tokek. Awalnya, dia melihat populasi tokek di sekitar rumahnya sangat banyak. Saat itu langsung muncul di pikirannya, untuk terjun menjadi pengepul tokek. Dia langsung mencari beberapa pemuda pengangguran di sekitar rumahnya. Mereka langsung dipekerjakan untuk mencari tokek di areal perkebunan dan persawahan.

Jika musim panas, mereka bisa mendapatkan 2.500 – 3.000 ekor tokek setiap hari. Harga tokek itu sekitar Rp 1.700 per ekor. Setelah terkumpul 4.000 ribu ekor tokek, mereka langsung mengirim reptil itu ke Probolinggo. ”Katanya sih untuk obat. Setiap kali mengirim biasanya 4.000 ekor tokek. Kami mendapatkan Rp 6.800.000,” ujar pria bertubuh subur itu.

Kariyono mengaku, dirinya sempat gagal mengirim pasokan tokek. Gara-garanya, stok binatang melata tidak ada. Selama 10 tahun bergelut dengan bisnis tokek, dia mengaku senang. Karena usahanya itu bisa mengurangi angka pengangguran di daerahnya.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: